Latest Entries »

SEBUAH KERINDUAN

TUHAN
SETIAP KUBERDIRI DIATAS
PERMADANI SAJADAHKU
TERASA KUBERDIRI
DI HAMPARAN TERAS
ARASY-MU, SENDIRI
TIADA KASIH
TIADA KARIB YANG MENEMANI
HANYA DIRI, WAJAH
DAN KASIH-MU
YANG SELALU KURINDU
TIADA KENAL BATAS WAKTU

Advertisements

KASIH
KENALKAN AKU AKAN DOSA
AGAR AKU TAK TERSESAT

KASIH
LUPAKAN AKU AKAN INTAN PAHALA
AGAR AKU TAK LUPA DARATAN

KASIH
TUNJUKKAN AKU JALAN KE NERAKA
AGAR AKU TAK MENGARAH KE SANA

KASIH
CUMBUHLAH AKU DENGAN MESRA
DAN JANGAN KAU LEPASKAN
AGAR HATI KITA SEMAKIN DEKAT

OH … TUHAN, DENGARKAN DOA HAMBA.

1. PENGERTIAN BENDA (ZAAK)

Secara yuridis adalah segala sesuatu yang dapat di haki atau yang dapat menjadi obyek hak milik ( pasal 499 BW)

 

2. ASAS-ASAS KEBENDAAN

 

1) asas hokum pemaksa (dewingenrecht)

Bahwa orang tidak boleh mengadakan hak kebendaan yang sudah diatur dalam UU

2) asas dapat di pindah tangankan

Semua hak kebendaan dapat dipindah tangankan , kecuali hak pakai dan mendiami

3) asas individualitas

Objek hak kebendaan selalu benda tertentu atau dapat ditentukan secara individual , yang merupakan kesatuan

4)asas totalitas

hak kebendaan selalu terletak diatas seluruh objeknya sebagai satu kesatuan (psl 500, 588, 606 KUHPdt)

5) asas tidak dapat dipisahkan

Orang yang berhak tidak boleh memindah tangankan sebagian dari kekuasaan yang termasuk suatu hak kebendaan yang ada padanya

6) asas prioritas

Semua hak kebendaan memberi kekuasaan yang sejenis dengan kekuasaan atas hak milik (eigendom) sekalipun luasnya berbeda-beda

7) asas percampuran

Apabila hak yang membebani dan yang dibebani itu terkumpul dalam satu tangan , maka hak yang membebani itu lenyap (pasal 706, 718, 724, 736, 807 KUHPdt)

8) pengaturan berbeda terhadap benda bergerak dan tak bergerak

Terhadap benda bergerak tak bergerak terdapat perbedaan pengaturan dalam hal terjadi peristiwa hokum penyerahan , pembebanan , bezit , dan verjaring

9) asas publisitas

Hak kebendaan atas benda tidak bergerak diumumkan dan didaftarkan dalam register umum

10) asas mengenai sifat perjanjian

 

sumber : http://pengantarhukumindonesia.blogspot.com/

PIH

ingat konsep asal mula hukum: kedaulatan Tuhan; kedaulatan rakyat/ kontrak masyarakat; kedaulatan negara; kedaulatan hukum
PHI; untuk mengetahui:
• Macam-macam hukum yang berlaku di Indonesia
• Perbutan apa yang dilarang dan diharuskan, serta diperbolehkan
• Kedudukan, hak an kewajiban setiap orang dalam masyarakat dan negara menurut hukum
• Macam-macam lembaga pembuat dan pelaksana atau penegak hukum di Indonesia
• Prosedeur hukum/ hukum acara, jika menghadapi masalah hukum
Persamaan dan perbedaan PIH dan PHI:
• Persamaan:
– Objek studinya sama sama hukum
– Sebagai ilmu dasar bagi orang yang belajar hukum
• Perbedaan:
– PIH mempelajari hukum secara umum (inleiding tot de rechtswetenschap/ introdction of Jurisprudence/ pengantar ajaran hukum umum )
– PHI (Inleiding tot het positiefrecht van Indonesie/ Introduction to Indonesia Positive Law): mempelajari hukum yang berlaku di Indonesia

 

sumber : Pengantar PIH SRI WAHYUNI

PIH

Pengantar Hukum Indonesia:
• Pengantar (introduction; inleiding): mengntarkan pada tujuan tertentu; memperkenalkan sesuatu secara umum atau garis besar yang tidak mendalam, tentang sesuatu hal tertentu
• Pengantar hukum Indonesia: memperkenalkan secara umum atau secara garis besar yang tidak mendalam, tentang dasar-dasar hukum yang berlaku sekarang di Indonesia.

• Hukum Indonesia: hukum yang berlaku di negara Indonesia sekarang ini; yang dikenal dengan hukum positif
• Hukum positif (ius positum) — ius constitutum, yaitu hukum yang sudah ditetapkan untuk diberlakukan saat ini pada suatu negara
• Ius constituendum: hukum yang dicita-citakan

sumber : Pengantar PIH Sri Wahyuni, M.Ag., M.Hum.

Kabupaten Sikka menyimpan begitu banyak ragam budaya,tradisi,bahasa dan peninggalan-peninggalan masa lampau yang mempunyai nilai peradaban yang tak ternilai.Memang banyak masyarakat dinegara kita yang belum mengetahui karena memang informasi seperti ini bisa dibilang jarang ditemui.
Sedikit informasi tentang keragaman budaya,bahasa yang khas dan unik dari kabupaten Sikka bisa dibaca disini…

– Kepercayaan purba –.> Tuhan, Dewa Matahari-Bulan
– Mo’ang Allessu
* Don Alessu Ximenes da Silva, peletak Agama Katolik di Kerajaan Sikka-Krowe

Bahasa dan Etnik

* Sikka Krowe – Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Sikka, Kelompok etnis yang
mendiami sebagian besar wilayah Kabupaten Sikka yang terdiri dari sub etnis Sikka Lela,Nita Koting, Nelle-Baluele, Habi-lli-Wetakara, Bola-Wolunwalu,Dorang-Halehebing.

* Sikka Muhan – Bahasa digunakan adalah Bahasa Muhan, Kelompok etnis Tana Ai yang
mendiami wilayah sekitar Kringa dan Werang. Penganut sistem kekerabatan matrilinear.
* Muhan mendiami bagian timur Kabupaten Sikka, sekitar perbatasan dengan Kab. Flores

Timur atau sering disebut Muhang Jawa.* Lio – Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Lio, Mayarakat etnis Lio mendiami bagaian
barat Kab. Sikka dan terdiri dari beberapa sub etnis seperti Mblengu, Mego, Nualolo, dan Bu.
* Palue – Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Palue,Kelompok etnis yang mendiami pulau Palue antara lain sub-etnis Nge: Lajangawawi, Lajakarapau, Suria, Kimalaja, Cinde, Pima dan Uwi Muri.
* Tidung – Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Bajo, Kelompok etnis Kidong Bajo berasal dari Sulawesi selatan yang mendiami pulau-pulau sekitar Teluk Maumere dan sepanjang Pantai Utara (Magepanda, Alok, Kewapante, Waigete, Talibura)

Adat upacara

• 2 ritual siklus tahunan, yakni:
– Musim tanam (Wulang Leleng) dan
– Musim panen (Wulang Dereng)

• 3 siklus daur hidup (Hu’erHoreng Ata Bi’ang), yakni:
– Kelahiran (Wua DetAE Doda), terdiri dari 8 ritual, mulai dari pemberian nama hingga
penyunatan

– Pernikahan (Lema Lepo ‘Rawit Woga), termasuk ritual yang paling rumit terdiri dari 11 ritual, mulai dari ritual meminang hingga ritual mengantar istri ke pihak keluarga
suami. Adat mas kawin (belis) menurut para ahli dan sejarahwan berasal dari perintah
Ratu Dona Inez dan Ratu Dona Maria Du’a Lise Ximenes da Silva pada awal abad ke 17, guna mengangkat harkat kaum wanita di Kerajaan Sikka.

– Kematian (Huer Hereng Ata Mateng Potat), terdiri dari 7 ritual, mulai dari ritual
pembawaan kain, lilin hingga ritual minggu pertama dan ketujuh.

Seni tradisi:

• Seni tari terdiri dari:
– Tari Upacara Ritual, berkaitan dengan kelahiran, tanam padi, hingga giring perahu.
– Tari Perang, berkaitan dengan ritual sebelum perang hingga tari kemenangan perang.
– Tari Pergaulan, seperti pesta panen, perkawinan hingga tarian yang diwarisi dari
kebudayaan Portugis seperti Tari Bobu yang merupakan drama tari kehidupan Yesus.

• Musik tradisional di Sikka sangat diwarnai oleh musik perkusi pukul yang disebut gong waning, namun alat musik lainnya juga cukup komplit, mulai dari alat perkusi pukul dari metal dan bambu, perkusi kulit (gendang), musik tiup, alat musik petik hingga gesek.

• Tradisi Tenun ikat, dimana tenun ikat tidak hanya menghasilkan tekstil semata, namun setiap motif tenun ikat selalu punya makna simbolis, bahkan pada jaman kerajaan juga menjadi penanda status adat dan sosial.

Benda Pusaka Budaya

Budaya Sikka sangat kaya dengan barang-barang pusaka budaya, baik yang asli dari
kerajaan Sikka sebelum Portugis datang maupun sesudah Portugis datang. Benda pusaka
budaya antara lain: benda peninggalan pra-sejarah (tempayan dongson, replika perahu perak Dobo), benda-benda peninggalan kebesaran kerajaan disebut Regalia, patung keagamaan(patung Bayi Yesus, Watu Cruz)

sumber : http://www.inimaumere.blogspot.com

“Oh, helelarak! Oh, helelarak!” Selamat datang, selamat datang! Ketika para tamu berjalan menuju kampung Watublapi, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, mereka disambut dengan nyanyian dan tarian oleh para perempuan yang mengenakan pakaian tradisional warna-warni yang menawan, menerima para tamu ke kampung mereka.

Kata-kata penyambutan ini berarti persahabatan, kesetiaan dan hormat pada adat istiadat. Para pengunjung direciki air suci oleh tetua kampung dan sebuah selendang dikenakan pada seorang tamu yang lagi beruntung. Pertunjukan baru saja mulai.
Watublapi berasal dari kata watu (batu) dan blapi (duduk), yang berarti “duduk bersama”. Kampung ini ada di sebuah pegunungan, sekitar 45 menit perjalanan arah timur dari Kota Maumere.

Perjalanan mengagumkan. Meski gunung api aktif tersebar di beberapa bagian Pulau Flores ini, tanahnya sangat subur dan ditutupi dengan segala macam pohon-pohon dan komoditas: kelapa, cengkeh, jambu mete, kakao dan kopi. Ketika para pengunjung mendekati Watublapi, segera tampak bagi mata mereka kain-kain sarung warna-warni yang dijemur pada tali jemuran.

Semua laki-laki dan perempuan yang tergabung dalam upacara penyambutan tadi adalah anggota-anggota Sanggar Bliran Sina, yang didirikan 25 tahun lalu oleh Romanus Rewo, seorang penduduk asli Watublapi (kelahiran Watublapi).

Romanus telah berjalan dari hotel ke hotel untuk coba menjual kain tenun ikat yang dibuat sendiri oleh keluarganya, tetapi dia berpikir mesti ada satu cara yang lebih baik untuk menjual kain-kain itu, maka dia memutuskan untuk membentuk organisasi ini. Tujuan lain dari Sanggar Bliran Sina adalah untuk menghidupkan dan memelihara teknik-teknik celupan-celupan asli, yang menggunakan bahan alamiah.

Menyusul kematian Romanus tahun 1990, putranya yang energik Daniel David mengambil oper Sanggar yang sekarang terdiri dari 55 anggota aktif bukan hanya penenun, tetapi juga para penari dan penyanyi/pemusik.

Pertunjukan orang-orang kampung ini menyajikan tarian-tarian dan nyanyi-nyanyian yang bermakna secara kultural. Nyanyian yang menggugah hati dan tarian yang meriah sekali terus menular dan para pengunjung akan segera menepuk-nepuk tangan mereka mengikuti irama musik.

Tarian pembukaan, Roa Mu’u, mendemonstrasikan ikatan dua keluarga di dalam adat perkawinan tradisional. Keluarga pengantin perempuan menyiapkan kain sarung adat sementara keluarga mempelai pria harus membawa satu gading.

Sarung itu harus mengandung satu motif asli yang dinamakan werak atau wiriwanan, yang melambangkan kesuburan. Motif-motif gading gajah ini ada sebelum kedatangan agama Kristen di Flores, ketika perdagangan barang-barang ke Indonesia bagian timur pada puncak perdagangan rempat-rempah dan menjadi semacam simbol kesuburan wanita.

Roa Mu’u adalah upacara memotong sebuah batang pisang yang berarti mengatasi kesulitan-kesulitan yang mungkin pengantin baru jumpai selama kehidupan perkawinan mereka. Pohon pisang dikenal bisa bertumbuh kembali meski dipotong berkali-kali.

Tarian Togo dan nyanyian menggambarkan mengirik pada waktu panen, menggunakan kaki mereka untuk memisahkan bulir dari jerami. Doa-doa dan puisi-puisi tradisional dinyanyikan untuk dewi padi. Menurut kepercayaan setempat, padi berasal dari darah seorang gadis bernama Ina Nalu Pare. Menyanyikan nyanyian yang dipersembahkan kepada dewi padi menjamin bahwa jiwanya akan tetap dekat dengan padi-padi itu, menjamin panen yang baik dan terlindung dari kekuatan-kekuatan jahat.

Termasuk dalam program budaya ini adalah suatu demonstrasi cara memproduksi kain dengan tangan mulai dari membersihkan kapas, memintal, mengikat, mewarnai dengan pohon-pohon celupan dan mengikat dan menenun kain disebut tenunan.

Ada dua bentuk benang yang digunakan untuk menenun kain ini. Benang yang dibuat penenenun yang diolah dari kapas dari kebun mereka. Benang komersial yang dibeli di pasar, yang siap untuk dicelup. Benang ini diproduksi di Jawa dan dijual hampir di seluruh pasar di Flores.

“Mengikat” merujuk pada mengikat motif dan pola pada benang yang telah disiapkan, untuk mencegah celupan-celupan merembes ke bagian ikat yang menciptakan motif. Benang ini diikat dengan secarik daun yang berasal dari pohon gebang atau daun kelapa muda.

Proses pencelupan sangat membosankan, terutama dalam menyiapkan bahan alamiah dari tumbuh-tumbuhan. Mencelupkan benang memakan waktu tiga sampai empat hari, bahkan dimasukkan dan dicelupkan beberapa kali sampai warna yang diingini oleh penenun tercapai.

Pohon nila (indigo plants) bertumbuh di dataran rendah di Flores dan bernilai karena menghasilkan air celupan warna biru kehitam-hitaman.

Untuk warna cokelat kehitam-hitaman, akar mengkudu (morinda) digali, tapi hanya kulit akarnya yang digunakan. Ini dipukul-pukul dan dicampur dengan bubuk kulit pohon loba. Jika warna merah yang dihasilkan tidak memuaskan, maka tiga buah atau lebih kulit akar dimasak dan kain dicelupkan sekali lagi dalam celupan itu.

Kunyit (turmeric) dicampur dengan kulit pohon mangga untuk menghasilkan celupan warna kuning.

Baru-baru ini diperkenalkan warna hijau yang diproduksi dari pohon daun mangga. Tapi karena daun-daun ini sangat kuat dan sukar untuk dihancurkan, maka warna ini sukar memproduksinya.

Daun pepaya dan singkong juga bisa digunakan untuk membuat celupan warna hijau, dan lebih disukai oleh beberapa penenun. Para penenun sangat banyak akal dan selalu mencari bermacam-macam tumbuh-tumbuhan, bereksperimen dengan warna dominan dari tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan warna celupan.

Membutuhkan tiga sampai empat minggu untuk menghasilkan sebuah selendang kecil dari benang-benang komersial yang menggunakan celupan alamiah, dan tiga bulan jika benang dikerjakan sendiri.

Laki-laki juga memainkan peran penting dalam proses pembuatan kain, terutama mengambil bahan-bahan celupan. Menggali akar mengkudu sangat berat, sementara berkarung-karung nila dipetik dari dataran rendah untuk menghasilkan celupan warna biru. Bahan tumbuh-tumbuhan lainnya ditemukan di hutan dan pria biasanya diberi tugas ini.

Mereka juga menolong mencampurkan bahan material ini dan memasak bahan-bahan celupan ini juga merupakan bagian dari tugas pria – terutama ketika perempuan, sering istri-istri mereka, sibuk menenun.

Program budaya yang memasukkan sebuah visi tenaga kerja padat karya menghasilkan kain-kain. Ini adalah harapan penenun– mungkin dengan rasa cemas – bahwa satu dari tenunan mereka akan dibeli, atau setidaknya dihargai oleh para pengunjung.

Sejak Sanggar Sina Bliran didirikan, ekonomi setempat sudah diperbaiki secara mengagumkan. Seorang penenun berkomentar bahwa sejak bergabung dengan Sangggar, dia dapat mengirim anaknya ke sekolah dan dia selalu memiliki persediaan beras di dapur.

Kerja sama telah mendorong para pekerja keras dari Watublapi untuk mendapatkan kembali warisan mereka melalui menenun sambil mendirikan sebuah gerbang ekonomi yang menjual produk tenunan mereka.

Suatu perjalanan ke kampung adalah satu pengalaman yang luar biasa apalagi kalau melihat sebuah warisan budaya bukan hanya mau dipertahankan, tetapi juga lebih jauh mengubah kehidupan para penghuni kampung ke arah yang lebih baik.

Naskah ini diterjemahkan Frans Obon dari Watublapi: Weaving life from Cultural Heritage karya Filomena Reiss, The Jakarta Post.com

sumber : http://www.inimaumere.com

“Goa Nippon ini, belum banyak diketahui oleh khalayak ramai. Semoga melalui http://www.inimaumere.com kita bisa memperkenalkan obyek situs bersejarah beserta kawasan bukit yang juga memiliki potensi menarik, panorama ke laut lepas,”ujar Yance Moa.

Setelah melihat-lihat dalam gua, kami bergerak menuju keatas bukit. Kurang lebih 30 meter ada sebuah gua yang menurut Yance Moa digunakan sebagai tempat persembunyian kendaraan Tentara Jepang. Gua ini digunakan pula untuk berjaga-jaga jika tentara sekutu melakukan pemantauan, sebagai bungker untuk kendaraan. Sedangkan berjarak sekitar 50 meter dari gua tersebut ada lagi sebuah tempat penimbunan amunisi. Tempat yang katanya terdapat amunisi tersebut dikubur dan diberi tanda dengan pohon aur serta ditaruh beling agar mudah dikenali.

Cerita ini menurut saksi mata yang masih hidup bernama Moang Anton, yang waktu remaja saban hari bersama-sama dengan tentara jepang. Sayangnya saat mau menuju ketempat tersebut, hujan turun dengan lebat. Menurut Yance Moa, disekitar Gua Nipon tersebut masih ada 11 gua lainnya, karena ketidakpedulian dan kekurangtahuan masyarakat desa akhirnya 11 gua lainnya perlahan-lahan tertutup oleh erosi.

Menurut dua pemandu kami yakni Yance Moa dan Will “kumis”, Goa Nipon tersebut sebelumnya tak seperti saat ini. Kondisinya nyaris terkubur atau hilang, karena seluruh lorong telah dipenuhi tanah. Sebagian lain diantaranya sudah rusak, terkubur dan hilang secara alamiah akibat erosi bertahun tahun karena tidak adanya perhatian, ketidak tahuan dan lain-lain.

Komunitas Kampoeng Hijau, sebuah wadah yang bergerak dibidang lingkungan tanggal 17 November 2009 tahun lalu akhirnya berinisiatif melakukan upaya penggalian kembali tanah urugan di Gua Nippon Penggalian kembali tanah urugan ini mendapat restu serta dukungan dari Du’a Moan Watu Pitu (Lembaga Adat Desa), Kepala Desa Tomas dan masyarakat. Sehingga gua yang kini kami datangi tersebut menjadi satu-satunya gua yang bisa dimasuki dan bisa kami gunakan beristirahat saat hujan lebat membasahi bukit.

Untuk mengurangi dampak perubahan iklim akibat pemanasan global kini disekitar kawasan Bukit Bungat telah digali lobang tanam seluas 10 Ha dan ditanami 3.500 anakan pohon mahoni. Ketika berada disana, anakan mahoni tersebut beberapa diantaranya nampak tak berkembang dengan baik.

Selain Gua Nipon yang berada di kawasan Bukit Bungat Watuliwung ada lagi beberapa gua peninggalan tentara Jepang yang tersebar diseantero Kabupaten Sikka – Flores. Seperti di belakang Bukit Iligetang, Desa Sikka, Patiahu, Lela, Magepanda dan beberapa tempat lainnya. Gua-gua tersebut menjadi saksi bisu sejarah keberadaan serdadu Jepang yang memilki cerita kejam saat menguasai wilayah jajahannya.

So, setelah Gua Nipon di Watuliwung, petualangan berikutnya adalah menyusuri Gua Jepang di Desa Lela yang memiliki panjang gua sekitar 500 meter.

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berdiri pada tahun 1964, atas prakarsa tokoh-tokoh dan Pimpinan Muhammadiyah Daerah Malang. Pada awal berdirinya Universitas Muhammadiyah Malang merupakan cabang dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, yang didirikan oleh Yayasan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Jakarta dengan Akte Notaris R. Sihojo Wongsowidjojo di Jakarta No. 71 tang-gal 19 Juni 1963.

Pada waktu itu, Universitas Muhammadiyah Malang mempunyai 3 (tiga) fakultas, yaitu (1) Fakultas Ekonomi, (2) Fakultas Hukum, dan (3) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jurusan Pendidikan Agama. Ketiga fakultas ini mendapat status Terdaftar dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi pada tahun 1966 dengan Surat Keputusan Nomor 68/B-Swt/p/1966 tertanggal 30 Desember 1966.

Pada tanggal 1 Juli 1968 Universitas Muhammadiyah Malang resmi menjadi universitas yang berdiri sendiri (terpisah dari Universitas Muhammadiyah Jakarta), yang penyelenggaraannya berada di tangan Yayasan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Malang, dengan Akte Notaris R. Sudiono, No. 2 tertanggal 1 Juli 1968. Pada perkembangan berikutnya akte ini kemudian diperbaharui dengan Akte Notaris G. Kamarudzaman No. 7 Tanggal 6 Juni 1975, dan diperbaharui lagi dengan Akte Notaris Kumalasari, S.H. No. 026 tanggal 24 November 1988 dan didaftar pada Pengadilan Malang Negeri No. 88/PP/YYS/ XI/ 1988 tanggal 28 November 1988.

Pada tahun 1968, Universitas Muhammadiyah Malang menambah fakultas baru, yaitu Fakultas Kesejahteraan Sosial yang merupakan fi‘lial dari Fakultas Kesejahteraan Sosial Universitas Muhammadiyah Jakarta. Dengan demikian, pada saat itu Universitas Muhammadiyah Malang telah memiliki empat fakultas. Selain itu, FKIP Jurusan Pendidikan Agama mendaftarkan diri sebagai Fakultas Agama yang berada dalam naungan Departemen Agama dengan nama Fakultas Tarbiyah.

Pada tahun 1970 Fakultas Tarbiyah ini mendapatkan status yang sama dengan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (IAIN), dengan Surat Keputusan Menteri Agama Nomor 50 Tahun 1970. Pada tahun ini pula Fakultas Kesejahteraan Sosial mengubah namanya menjadi Fakultas Ilmu Sosial dengan Jurusan Kesejahteraan Sosial. Kemudian pada tahun 1975 Fakultas ini resmi berdiri sendiri (terpisah dari Universitas Muhammadiyah Jakarta) dengan Surat Keputusan Terdaftar Nomor 022 A/1/1975 tanggal 16 April 1975.

Fakultas yang kemudian ditambahkan adalah Fakultas Teknik, yaitu pada tahun 1977. Pada tahun 1980 dibuka pula Fakultas Pertanian, kemudian menyusul Fakultas Peternakan. Antara tahun 1983 sampai dengan 1993, ditambahkan jurusan-jurusan baru dan ditingkatkan status jurusan-jurusan yang suudah ada. Yang terakhir, pada tahun 1993 Universitas Muhammadiyah Malang membuka Program Pascasarjana Program Studi Magister Manajemen dan Magister Sosiologi Pedesaan.

Sampai tahun akademik 1994/1995 ini, Universitas Muhammadiyah Malang telah memiliki 9 fakultas dan 25 jurusan/program studi tingkat strata Si, dua program studi strata-S2, dan satu akademi /strata-D3 Keperawatan.

Pada rentang tiga puluh tahun perjalanan UMM ini (1964- 1994), perkembangan yang paling berarti dimulai pada tahun 1983-an. Sejak saat itu dan seterusnya UMM mencatat perkembangan yang sangat mengesankan, balk dalam bidang peningkatan status Jurusan, dalam pembenahan administrasi, penambahan sarana dan fasilitas kampus, maupun penambahan dan peningkatan kualitas tenaga pengelolanya (administrasi dan akademik).

Dalam bidang sarana fisik dan fasilitas akademik, kini telah tersedia tiga buah kampus: Kampus I di Jalan Bandung No. 1, Kampus II di Jalan Bendungan Sutami No. 188a, dan Kampus III (Kampus Terpadu) di Jalan Raya Tlogo Mas. Dalam bidang peningkatan kuantitas dan kualitas tenaga akademik, telah dilakukan (1) rekruitmen dosen-dosen muda yang berasal dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di pulau Jawa, (2) peningkatan kualitas para dosen dengan mengirim mereka untuk studi lanjut (S2 dan S3) di dalam maupun di luar negeri.

Berkat perjuangan yang tidak mengenal berhenti ini, maka kini Universitas Muhammadiyah Malang sudah menjelma ke arah perguruan tinggi alternatif. Hal ini sudah diakui pula oleh Koordinator Kopertis Wilayah VII, yang pada pidato resminya pada wisuda sarjana Universitas Muhammadiyah Malang tanggal 11 Juli 1992, mengemukakan bahwa UMM tergolong perguruan tinggi yang besar dan berprospek untuk menjadi perguruan tinggi masa depan.

Dengan kondisi yang terus ditingkatkan, kini Universitas Muhammadiyah Malang dengan bangga tetapi rendah hati siap menyongsong masa depan, untuk ikut serta dalam tugas bersama “mencerdaskan kehidupan bangsa” dan “membangun manusia Indonesia seutuhnya” dalam menuju menjadi bangsa Indonesia yang bermartabat dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

sumber : umm.kabarku.com

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), berdiri pada tahun 1964 . UMM merupakan salah satu universitas yang tumbuh cepat, sehingga oleh PP Muhammadiyah diberi amanat sebagai perguruan tinggi pembina untuk seluruh PTM (Perguruan Tinggi Muhammadiyah) wilayah Indonesia Timur. Program-programyang didisain dengan cermat menjadikan UMM sebagai “The Real University”, yaitu universitas yang benar-benar universitas dalam artian sebagai institusi pendidikan tinggi yang selalu komit dalam mengembangkan Tri Darma Perguruan Tinggi

711915

Pada sekarang ini Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menempati 3 lokasi kampus, yaitu kampus I di jalan benduangn bandung, kampus dua di sumbersari dan kampus tiga di tegal gondo. Kampus satu yang merupakan cikal bakal UMM, dan sekarang ini dikonsentrasikan untuk program pasca sarjana. Sedangkan kampus II yang dulu merupakan pusat kegiatan utama , sekarang di konsentrasikan sebagai kampus fakultas kedokteran dan program D3 akademi perawat. Sedangkan kampus III sebagai kampus terpadu dijadikan sebagai pusat sari seluruh aktivitas.

Fakultas-Fakultas
Pada awal berdiri, UMM baru membuka beberapa fakultas, yaitu fakultas Hukum, Ekonomi dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) serta jurusan Ilmu Agama (Cabang dari FAI Universitas Muhammadiyah Jakarta). Seiring dengan berjalannya waktu dan tuntutan jaman, maka UMM telah membuka fakultas-fakultas lain, yaitu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Pertanian, Fakultas Peternakan dan Perikanan, Psikologi, Kedokteram, Program D3 Keperawatan dan Program Pasca Sarjana yang masing-masing mengembang beberapa jurusan.

Mahasiswa
Saat ini UMM mendidik tidak kurang dari 23.700 mahasiswa dari seluruh penjuru tanah air, mulai dari NAD hingga Papua. Jumlah tersebut termasuk mahasiswa luar negeri, yaitu dari Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, Australia dan Timor Leste. Mereka mempunyai latar belakang umur, budaya, suku ras, agama, kondisi sosial dan asal SLTA yang berada. Sehingga, menampak gerbang UMM ibarat masuk ke dalam “Dunia Mini” tempat berinteraksi antar individu dan komunitas yang beragam latar belakangnya.

Dosan dan Staff Teknis
Di bidang akademik, Umm terus mengembangkan sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan pendidikan, penelitian yang berstandar internasional serta didukung dosen yang qualified. Hal ini dilakukan, karena UMM telah bertekad menjadi The Real University. Saat ini, UMM mempunyai staf pengajar tidak kurang 750 orang dengan kualifikasi pendidikan hampir 80% lulusan S2, 15% S3 dan Guru Besar sedangkan sisanya masih lulusan S1 dari berbagai PT dalam dan luar negeri. Selain itu UMM juga didukung oleh ratusan staf administrasi, teknisi dan laboran yang masing-masing ahli di bidangnya. Untuk meningkatkan Skill dan kualitas SDM, UMM secara berkala mengirimkan dosen dan staf teknis ke luar negeri untuk mempelajari dan mendalami ilmu dan pengetahuan di semua bidang.

Pada Tahun 2008, kampus UMM menjadi 10 besar kampus terunggul di Indonesia versi majalah Globe Asia

 

sumber : http://mimin.student.umm.ac.id/2010/08/18/tentang-umm/