“Goa Nippon ini, belum banyak diketahui oleh khalayak ramai. Semoga melalui http://www.inimaumere.com kita bisa memperkenalkan obyek situs bersejarah beserta kawasan bukit yang juga memiliki potensi menarik, panorama ke laut lepas,”ujar Yance Moa.

Setelah melihat-lihat dalam gua, kami bergerak menuju keatas bukit. Kurang lebih 30 meter ada sebuah gua yang menurut Yance Moa digunakan sebagai tempat persembunyian kendaraan Tentara Jepang. Gua ini digunakan pula untuk berjaga-jaga jika tentara sekutu melakukan pemantauan, sebagai bungker untuk kendaraan. Sedangkan berjarak sekitar 50 meter dari gua tersebut ada lagi sebuah tempat penimbunan amunisi. Tempat yang katanya terdapat amunisi tersebut dikubur dan diberi tanda dengan pohon aur serta ditaruh beling agar mudah dikenali.

Cerita ini menurut saksi mata yang masih hidup bernama Moang Anton, yang waktu remaja saban hari bersama-sama dengan tentara jepang. Sayangnya saat mau menuju ketempat tersebut, hujan turun dengan lebat. Menurut Yance Moa, disekitar Gua Nipon tersebut masih ada 11 gua lainnya, karena ketidakpedulian dan kekurangtahuan masyarakat desa akhirnya 11 gua lainnya perlahan-lahan tertutup oleh erosi.

Menurut dua pemandu kami yakni Yance Moa dan Will “kumis”, Goa Nipon tersebut sebelumnya tak seperti saat ini. Kondisinya nyaris terkubur atau hilang, karena seluruh lorong telah dipenuhi tanah. Sebagian lain diantaranya sudah rusak, terkubur dan hilang secara alamiah akibat erosi bertahun tahun karena tidak adanya perhatian, ketidak tahuan dan lain-lain.

Komunitas Kampoeng Hijau, sebuah wadah yang bergerak dibidang lingkungan tanggal 17 November 2009 tahun lalu akhirnya berinisiatif melakukan upaya penggalian kembali tanah urugan di Gua Nippon Penggalian kembali tanah urugan ini mendapat restu serta dukungan dari Du’a Moan Watu Pitu (Lembaga Adat Desa), Kepala Desa Tomas dan masyarakat. Sehingga gua yang kini kami datangi tersebut menjadi satu-satunya gua yang bisa dimasuki dan bisa kami gunakan beristirahat saat hujan lebat membasahi bukit.

Untuk mengurangi dampak perubahan iklim akibat pemanasan global kini disekitar kawasan Bukit Bungat telah digali lobang tanam seluas 10 Ha dan ditanami 3.500 anakan pohon mahoni. Ketika berada disana, anakan mahoni tersebut beberapa diantaranya nampak tak berkembang dengan baik.

Selain Gua Nipon yang berada di kawasan Bukit Bungat Watuliwung ada lagi beberapa gua peninggalan tentara Jepang yang tersebar diseantero Kabupaten Sikka – Flores. Seperti di belakang Bukit Iligetang, Desa Sikka, Patiahu, Lela, Magepanda dan beberapa tempat lainnya. Gua-gua tersebut menjadi saksi bisu sejarah keberadaan serdadu Jepang yang memilki cerita kejam saat menguasai wilayah jajahannya.

So, setelah Gua Nipon di Watuliwung, petualangan berikutnya adalah menyusuri Gua Jepang di Desa Lela yang memiliki panjang gua sekitar 500 meter.