“Oh, helelarak! Oh, helelarak!” Selamat datang, selamat datang! Ketika para tamu berjalan menuju kampung Watublapi, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, mereka disambut dengan nyanyian dan tarian oleh para perempuan yang mengenakan pakaian tradisional warna-warni yang menawan, menerima para tamu ke kampung mereka.

Kata-kata penyambutan ini berarti persahabatan, kesetiaan dan hormat pada adat istiadat. Para pengunjung direciki air suci oleh tetua kampung dan sebuah selendang dikenakan pada seorang tamu yang lagi beruntung. Pertunjukan baru saja mulai.
Watublapi berasal dari kata watu (batu) dan blapi (duduk), yang berarti “duduk bersama”. Kampung ini ada di sebuah pegunungan, sekitar 45 menit perjalanan arah timur dari Kota Maumere.

Perjalanan mengagumkan. Meski gunung api aktif tersebar di beberapa bagian Pulau Flores ini, tanahnya sangat subur dan ditutupi dengan segala macam pohon-pohon dan komoditas: kelapa, cengkeh, jambu mete, kakao dan kopi. Ketika para pengunjung mendekati Watublapi, segera tampak bagi mata mereka kain-kain sarung warna-warni yang dijemur pada tali jemuran.

Semua laki-laki dan perempuan yang tergabung dalam upacara penyambutan tadi adalah anggota-anggota Sanggar Bliran Sina, yang didirikan 25 tahun lalu oleh Romanus Rewo, seorang penduduk asli Watublapi (kelahiran Watublapi).

Romanus telah berjalan dari hotel ke hotel untuk coba menjual kain tenun ikat yang dibuat sendiri oleh keluarganya, tetapi dia berpikir mesti ada satu cara yang lebih baik untuk menjual kain-kain itu, maka dia memutuskan untuk membentuk organisasi ini. Tujuan lain dari Sanggar Bliran Sina adalah untuk menghidupkan dan memelihara teknik-teknik celupan-celupan asli, yang menggunakan bahan alamiah.

Menyusul kematian Romanus tahun 1990, putranya yang energik Daniel David mengambil oper Sanggar yang sekarang terdiri dari 55 anggota aktif bukan hanya penenun, tetapi juga para penari dan penyanyi/pemusik.

Pertunjukan orang-orang kampung ini menyajikan tarian-tarian dan nyanyi-nyanyian yang bermakna secara kultural. Nyanyian yang menggugah hati dan tarian yang meriah sekali terus menular dan para pengunjung akan segera menepuk-nepuk tangan mereka mengikuti irama musik.

Tarian pembukaan, Roa Mu’u, mendemonstrasikan ikatan dua keluarga di dalam adat perkawinan tradisional. Keluarga pengantin perempuan menyiapkan kain sarung adat sementara keluarga mempelai pria harus membawa satu gading.

Sarung itu harus mengandung satu motif asli yang dinamakan werak atau wiriwanan, yang melambangkan kesuburan. Motif-motif gading gajah ini ada sebelum kedatangan agama Kristen di Flores, ketika perdagangan barang-barang ke Indonesia bagian timur pada puncak perdagangan rempat-rempah dan menjadi semacam simbol kesuburan wanita.

Roa Mu’u adalah upacara memotong sebuah batang pisang yang berarti mengatasi kesulitan-kesulitan yang mungkin pengantin baru jumpai selama kehidupan perkawinan mereka. Pohon pisang dikenal bisa bertumbuh kembali meski dipotong berkali-kali.

Tarian Togo dan nyanyian menggambarkan mengirik pada waktu panen, menggunakan kaki mereka untuk memisahkan bulir dari jerami. Doa-doa dan puisi-puisi tradisional dinyanyikan untuk dewi padi. Menurut kepercayaan setempat, padi berasal dari darah seorang gadis bernama Ina Nalu Pare. Menyanyikan nyanyian yang dipersembahkan kepada dewi padi menjamin bahwa jiwanya akan tetap dekat dengan padi-padi itu, menjamin panen yang baik dan terlindung dari kekuatan-kekuatan jahat.

Termasuk dalam program budaya ini adalah suatu demonstrasi cara memproduksi kain dengan tangan mulai dari membersihkan kapas, memintal, mengikat, mewarnai dengan pohon-pohon celupan dan mengikat dan menenun kain disebut tenunan.

Ada dua bentuk benang yang digunakan untuk menenun kain ini. Benang yang dibuat penenenun yang diolah dari kapas dari kebun mereka. Benang komersial yang dibeli di pasar, yang siap untuk dicelup. Benang ini diproduksi di Jawa dan dijual hampir di seluruh pasar di Flores.

“Mengikat” merujuk pada mengikat motif dan pola pada benang yang telah disiapkan, untuk mencegah celupan-celupan merembes ke bagian ikat yang menciptakan motif. Benang ini diikat dengan secarik daun yang berasal dari pohon gebang atau daun kelapa muda.

Proses pencelupan sangat membosankan, terutama dalam menyiapkan bahan alamiah dari tumbuh-tumbuhan. Mencelupkan benang memakan waktu tiga sampai empat hari, bahkan dimasukkan dan dicelupkan beberapa kali sampai warna yang diingini oleh penenun tercapai.

Pohon nila (indigo plants) bertumbuh di dataran rendah di Flores dan bernilai karena menghasilkan air celupan warna biru kehitam-hitaman.

Untuk warna cokelat kehitam-hitaman, akar mengkudu (morinda) digali, tapi hanya kulit akarnya yang digunakan. Ini dipukul-pukul dan dicampur dengan bubuk kulit pohon loba. Jika warna merah yang dihasilkan tidak memuaskan, maka tiga buah atau lebih kulit akar dimasak dan kain dicelupkan sekali lagi dalam celupan itu.

Kunyit (turmeric) dicampur dengan kulit pohon mangga untuk menghasilkan celupan warna kuning.

Baru-baru ini diperkenalkan warna hijau yang diproduksi dari pohon daun mangga. Tapi karena daun-daun ini sangat kuat dan sukar untuk dihancurkan, maka warna ini sukar memproduksinya.

Daun pepaya dan singkong juga bisa digunakan untuk membuat celupan warna hijau, dan lebih disukai oleh beberapa penenun. Para penenun sangat banyak akal dan selalu mencari bermacam-macam tumbuh-tumbuhan, bereksperimen dengan warna dominan dari tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan warna celupan.

Membutuhkan tiga sampai empat minggu untuk menghasilkan sebuah selendang kecil dari benang-benang komersial yang menggunakan celupan alamiah, dan tiga bulan jika benang dikerjakan sendiri.

Laki-laki juga memainkan peran penting dalam proses pembuatan kain, terutama mengambil bahan-bahan celupan. Menggali akar mengkudu sangat berat, sementara berkarung-karung nila dipetik dari dataran rendah untuk menghasilkan celupan warna biru. Bahan tumbuh-tumbuhan lainnya ditemukan di hutan dan pria biasanya diberi tugas ini.

Mereka juga menolong mencampurkan bahan material ini dan memasak bahan-bahan celupan ini juga merupakan bagian dari tugas pria – terutama ketika perempuan, sering istri-istri mereka, sibuk menenun.

Program budaya yang memasukkan sebuah visi tenaga kerja padat karya menghasilkan kain-kain. Ini adalah harapan penenun– mungkin dengan rasa cemas – bahwa satu dari tenunan mereka akan dibeli, atau setidaknya dihargai oleh para pengunjung.

Sejak Sanggar Sina Bliran didirikan, ekonomi setempat sudah diperbaiki secara mengagumkan. Seorang penenun berkomentar bahwa sejak bergabung dengan Sangggar, dia dapat mengirim anaknya ke sekolah dan dia selalu memiliki persediaan beras di dapur.

Kerja sama telah mendorong para pekerja keras dari Watublapi untuk mendapatkan kembali warisan mereka melalui menenun sambil mendirikan sebuah gerbang ekonomi yang menjual produk tenunan mereka.

Suatu perjalanan ke kampung adalah satu pengalaman yang luar biasa apalagi kalau melihat sebuah warisan budaya bukan hanya mau dipertahankan, tetapi juga lebih jauh mengubah kehidupan para penghuni kampung ke arah yang lebih baik.

Naskah ini diterjemahkan Frans Obon dari Watublapi: Weaving life from Cultural Heritage karya Filomena Reiss, The Jakarta Post.com

sumber : http://www.inimaumere.com